Jumat, 20 Agustus 2010

HUT RI DAN RAHMAT ALLAH SWT DI BULAN RAMADHAN

Bulan Agustus merupakan bulan yang sangat istimewa bagi bangsa Indonesia, karena hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 itu bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 9 Ramadhan ketika itu. Hari Jum’at di mata umat Islam adalah penghulu hari-hari. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya hari Jum’at adalah sayyidul Ayyam (penghulu hari-hari)”. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan suci, bulan yang diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Saw (lihat QS 02: 185).

Dalam catatan sejarah, banyak peristiwa kemenangan terjadi pada bulan Ramadhan. Sebut saja perang Badr yang merupakan perang pertama dalam sejarah umat Islam. Perang yang terjadi pada tahun 2 Hijrah itu jelas menentukan masa depan umat Islam. Sebab jika umat Islam kalah pada saat itu, maka selesailah kelanjutan sejarahnya. Perang dengan jumlah pasukan muslimin yang lebih kecil sebanyak 313 pasukan melawan pasukan kaum musyrikin sebanyak 1000 pasukan, justru kemenangan diraih pihak kaum muslimin. Padahal dilihat dari segi jumlah pasukan, perlengkapan dan pengalaman yang dimiliki kaum muslimin jauh berbeda dengan yang dimiliki kaum musyrikin. Tentu saja kemenangan itu berkat bantuan Allah SWT (QS 08: 9). Mustahil rasanya kaum muslimin mendapat kemenangan saat itu jika melihat minimnya pasukan dan perlengkapan serta pengalaman yang dimiliki kaum muslimin.

Demikian juga dengan umat Islam di Indonesia kala itu. Jika kita melihat minimnya persenjataan yang kita miliki dalam meraih kemerdekaan Indonesia dari penjajahan bangsa Belanda, agaknya mustahil kita akan meraih kemenangan dan kemerdekaan. Bayangkan saja, senjata bambu runcing melawan tank-tank yang besar? Namun karena kegigihan, semangat dan keikhlasan bangsa ini untuk merdeka, maka Allah SWT menanamkan rasa takut di hati kaum penjajah. Sehingga tidak berlebihan jika dalam pembukaan UUD 1945 tertulis: “Dengan rahmat Allah SWT bangsa Indonesia telah sampai kepada pintu gerbang kemerdekaan”. Sebab, tanpa rahmat Allah SWT, rasanya mustahil bangsa Indonesia mencapai pintu kemerdekaan.

Kalimat “rahmat Allah SWT” yang tertuang pada pembukaan UUD 1945 tersebut, sesuai dengan hadits Nabi Saw yang berbunyi: “Bulan Ramadhan pase pertamanya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (ampunan) dan akhirnya adalah kebebasan dari api neraka”. (HR: Muslim). Bukankah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945 dan bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan yang merupakan pase pertama bulan Ramadhan yang penuh rahmat? Subhanallah!.

Peran Umat Islam

Tidak terbantahkan jika peran umat Islam dalam merebut kemerdekaan negeri ini itu benar adanya. Peperangan yang terjadi pada abad ke-19 melawan Belanda selalu bernafaskan jihad melawan orang kafir. Sebagai contoh, sewaktu Pangeran Diponegoro memanggil sukarelawan, maka kebanyakan mereka yang tergugah adalah para ulama dan ustadz dari pelosok desa. Pemberontakan petani menantang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19 selalu di bawah bendera Islam. Demikian pula perlawanan yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, dan seterusnya oleh Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan kape-kape (kafir-kafir) Belanda yang menyengsarakan umat Islam.

Dalam perjuangan sosial-politik yang bermuara pada kebangkitan nasional, umat Islam Indonesia juga berada pada barisan paling depan sebagai pelopor. Berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 yang kemudian menjelma menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912 merupakan pelopor kebangkitan nasional di samping Budi Utomo.

Mengisi Kemerdekaan

Hari ini, sudah 65 tahun negeri ini lepas dari cengkraman penjajah. Kita sudah bisa merasakan hidup sebagai orang yang bebas dan negara kita telah mendapatkan kemuliaan sebagai bangsa yang berdaulat. Tidak terbantahkan jika terdapat peran umat Islam dalam usaha merebut kemerdekaan negeri ini. Demikian pula tercatat pada hari ini, Indonesia masih menjadi negara terbesar yang memiliki warga negara muslim. Demikian pula, sudah barang tentu kemerdekaan yang pernah direbut 65 tahun yang lalu harus dipertahankan dan diisi dengan berbagai pembangunan di segala bidang. Mengingat pemeluk Islam yang besar di negeri ini, tidak mungkin pembangunan bangsa ini berlangsung sesuai harapan tanpa dukungan umat Islam.

Karena itu, kemerdekaan harus diisi dengan peran serta umat Islam. Semangat nasionalisme umat Islam pada bangsa ini juga jangan sampai luntur. Ingatlah pesan Bung Karno: “Jas Merah: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Betapa kemerdekaan ini telah dibayar dengan darah pejuang-pejuang kita. Semangat Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, dan seterusnya harus selalu menjadi spirit yang dimiliki generasi muslim bangsa kita, terutama dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang sudah diperjuangkan.

Sungguh, kemerdekaan RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 kala itu yang bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 9 Ramadhan, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kemerdekaan yang kita rasakan pada hari ini – meminjam kata Bung Karno - adalah rahmat dari Allah SWT dan buah perjuangan panjang para pejuang-pejuang kita. Tulisan saya ini hanya sekadar refleksi hari ulang tahun kemerdekaan Negara kita. HUT RI yang lagi-lagi kita rayakan bertepatan dengan bulan penuh Rahmat yaitu Ramadhan, mengingatkan kita tentang pentingnya semangat nasionalisme tumbuh di dada masyarakat muslim kita. Tentu kita tidak menginginkan umat Islam menjadi teroris di negerinya sendiri, karena Islam sendiri tidak mengajarkan semangat demikian. Semoga Negara kita selalu diberikan rahmat oleh Allah SWT, untuk tetap menjadi negara makmur dan damai, serta menjadi negara yang jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin.***

Tidak ada komentar: